Terkisah ada dua orang musafir yang tersesat di dalam hutan. Lalu mereka ditangkap oleh beberapa orang dari suku yang menguasai hutan tersebut. Meraka dihadapkan kepada kepala suku.
“Ampuni kami Tuan. Kami tersesat dan tidak ada niat kami untuk mengganggu warga Tuan di sini,” kata salah seorang di antara mereka.
“Tidak! Kecuali kalian membawa kepadaku buah-buahan yang belum kami kenal dan belum pernah kami rasakan,” jawab sang kepala suku.
Kemudian mereka segera mencari buah-buahan di hutan tersebut. Seorang mengambil arah ke selatan sedang yang lain ke utara. Akhirnya, musafir pertama kembali dengan membawa buah yang ia harap belum dikenal suku itu.
“Ini Tuan, buah yang Tuan inginkan,” katanya.
“Apa-apaan ini? Ini kan nanas, buah yang biasa kami makan. Pengawal, hukum dia!” Titah sang kepala suku.
Musafir tersebut segera diseret dan ditengkurapkan. Lalu buah nanas yang ia bawa, digosokkan ke punggungnya.
“Oouww....!!” Musafir tersebut menjerit kesakitan ketika punggungnya digosok dengan buah nanas. Namun, kepala suku dan warga yang menyaksikan bersorak-sorai kegirangan seakan mereka mendapat tontonan gratis yang mengasyikkan. Begitu pula ketika musafir tersebut mengerang untuk kali kedua saat punggungnya kembali digosok dengan buah nanas.
Akan tetapi, ketika nanas digosokkan untuk kali ketiga, musafir tadi diam. Kepala suku dan warga yang menyaksikan menjadi heran. Kemudian digosok lagi, tapi musafir tersebut malah tertawa. Kepala suku dan warga semakin heran. “Ada apa gerangan?”
Ternyata ketika digosok untuk kali ketiga, musafir itu menoleh ke arah temannya yang baru datang. Dan ia datang dengan membawa buah......'durian'.
***
Kisah tersebut walau mungkin hanya sekadar dongeng, tapi cukup mampu menyindir sebagian di antara kita. Kadang kita mampu gembira saat orang lain tertimpa musibah. Bahkan kadang kita bisa tertawa justru karena orang lain (terlihat akan) lebih menderita daripada kita. Na’udzubillah. Semoga ke depan, kita semakin mengerti makna kata peduli.
ll Teringat kata Farhan pada Raju, "Kita merasa sedih saat teman kita gagal, tapi rasanya lebih sedih dan menyakitkan saat teman kita berhasil." ll (tyo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar